Tuesday, March 29, 2011

MUHAMMADIYAH, terancam GAGAL?

Suatu ketika di dalam Pengajian Kampung Kauman Yogyakarta, sempat terjadi ketegangan.

Hal tersebut dikarenakan, KH. Ahmad Dahlan, yang menjadi pimpinan pengajian tersebut, secara berulang-ulang mengajarkan lafal maupun makna dari Surat Al-Ma’un, yang terdiri atas 7 ayat.

Para Santri merasa telah hapal dengan surat itu, meminta KH. Ahmad Dahlan untuk meneruskan pelajaran kepada surat yang lain.

Menanggapi protes dari murid-muridnya, Sang Kyai dengan tenang berkata :

Baik, kalian telah hafal dan mengerti maknanya. Tetapi, bukankah surat ini memiliki arti khusus, dan bahkan bernada mengancam kita sebagai pendusta agama, apabila kita menelantarkan anak yatim dan kaum miskin. Mari kita renungkan dalam-dalam, apakah kita semua telah mengamalkannya?

Mendengar jawaban Kyainya, sepulang dari pengajian, para santri KH. Ahmad Dahlan mengadakan penelitian tentang cara yang terbaik dalam rangka mengamalkan Surat Al Ma’un tersebut.

Konon, dari temuan murid-murid KH. Ahmad Dahlan inilah, yang menjadi cikal bakal kelahiran Organisasi Massa Muhammadiyah.

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang Shalat, (yaitu) mereka yang lalai dari Shalatnya, yang berbuat riya’. Dan enggan (memberikan) bantuan (QS. Al Ma’un (107) ayat 1-7).

Biografi KH. Ahmad Dahlan

Kyai Haji Ahmad Dahlan (lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 – meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun). Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar.

KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu beliau adalah puteri dari H. Ibrahim, yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.

Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Ia termasuk keturunan dari Sunan Giri (silahkan kunjungi Sunan Giri, Pendidik yang Ahli Fiqih), yang merupakan salah seorang walisongo terkemuka.

Pada umur 15 tahun, ia pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, ia mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Dan ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.

Pada tahun 1903, ia bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syekh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, KH. Hasyim Asyari (Sumber : Ahmad Dahlan, Sang Pendiri Muhammadiyah).

Pengalaman Organisasi

Disamping aktif dalam gerakan dakwah, Dahlan juga dikenal sebagai seorang wira-usahawan yang cukup berhasil denganberdagang batik.

Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang, Dahlan juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat, sehingga ia juga dengan cepat mendapatkan tempat di organisasiJam’iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Ahmad Dahlan bercita-cita untuk mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan Islam. la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur’an dan al-Hadits. Beliau mendirikan sebuahPerkumpulan, yang dinamakan Muhammadiyah, pada tanggal 18 Nopember 1912. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyahbukanlah organisasi politik, melainkan bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.


Pengentasan Kemiskinan

Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik pada bulan Maret 2010, jumlah penduduk Indonesia yang masih hidup dibawahgaris kemiskinan mencapai 31,02 juta jiwa. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, ada lebih dari 70 juta rakyat, yang masih menerima raskin dan sebanyak 4 juta anak Indonesia kurang gizi.

Masih banyaknya kemiskinan di Indonesia, salah satu faktor penyebabnya adalah pemilihan Sistem Ekonomi yang keliru. Dengan memperhatikan perkembangan perekonomian di Indonesia sampai saat ini, maka kita dapat menyimpulkan bahwa perekonomian Indonesia, tengah bergerak menuju Ekonomi Liberal secara utuh.

Padahal sejarah mencatat, Ekonomi Liberal dengan Sistem Finansial Kapitalis, telah menjadi penyebab krisis ekonomi yang melanda dunia tahun 2008 (Sumber : Kerapuhan Sistem Finansial Kapitalis).

Muhammadiyah sebagai organisasi yang di-ilhami, oleh QS. Al Ma’un, tentu tidak bisa berpangku tangan. Adalah satu kewajiban bagi Muhammadiyah, untuk terus ber-inovasi dalam upaya mengentaskan Kaum Dhuafa. Dan mengingatkan para pemimpin bangsa, agar kembali kepada aturan ALLAH, termasuk dalam menerapkan Ekonomi Syariah yang lebih berkeadilan sosial.

Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka Muhammadiyah harus legowo, apabila dikatakan telah gagal, dalam menerapkan QS. Al Ma’un dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana yang dicita-citakan pendirinya KH. Ahmad Dahlan.

Artikel Terkait
01. Sunan Kalijaga, Ulama Seniman
02. Rasionalisasi, Kisah Syaikh Siti Jenar
03. Maulana Husain, Pelopor dakwah Nusantara

No comments:

Post a Comment