Sunday, December 27, 2009

Bani Jawi (Melayu Deutro), dalam Sejarah dan Legenda

Kunjungi (Revisi Sejarah Bangsa Melayu)...
Nabi Nuh, Sundaland dan Bangsa Melayu


Pada masa Dinasti ke-18 Fir'aun di Mesir (
sekitar 1.567SM-1.339SM), di pesisir barat pulau sumatera telah ada pelabuhan yang ramai, dengan nama Barus. Pelabuhan ini berkembang dengan baik, dikarenakan ada bangsa yang mengatur, serta menjaganya dari serangan bajak laut atau negara lain.

Penguasa Pelabuhan Barus, dikenal dengan nama Bangsa Malai. Malai dalam bahasa Sanskrit atau Tamil, berarti bukit (gunung). Seperti namanya, Bangsa Malai bermukim di sekitar perbukitan (dataran tinggi).


Asal Muasal Bangsa Malai

Diperkirakan bangsa Malai, bermula dari 4 (empat) bangsa, yakni Arab-Cina-Eropa-Hindia, terkadang disingkat ACEH (sampai sekarang istilah ACEH masih dinisbatkan kepada keturunan Bangsa Malai yang tinggal di ujung utara pulau sumatera).

Bangsa yang pertama datang adalah Bangsa Hindia Malaya (Himalaya). Bangsa Himalaya merupakan interaksi antara Bangsa Hindia (keturunan Kusy keturunan Ham bin Nabi Nuh), dengan Bangsa Malaya (keturunan Bangsa Malaya Purba/Atlantis/Sundaland [Penduduk Asli Nusantara], yang selamat dari bencana banjir Nuh).




Pada awalnya mereka tinggal di kaki gunung Himalaya, sekitar tahun 6.000SM mereka datang ke pulau sumatera. Mereka menyusul kerabatnya bangsa Polinesia (keturunan Heth keturunan Ham bin Nabi Nuh), yang telah terlebih dahulu datang, dan bertempat tinggal di bagian timur Nusantara.

Pada sekitar tahun 4.500SM, datang Bangsa Cina atau Bangsa Formosa (keturunan Shini keturunan Yafits bin Nabi Nuh). Bangsa ini membawa budaya Agraris dari tempat asalnya.

Setelah itu sekitar tahun 2.500SM, datang Bangsa Eropa atau Bangsa Troya/Romawi Purba (keturunan Rumi keturunan Yafits bin Nabi Nuh), mereka membawa Peradaban Harappa, yang dikenal sudah sangat maju.

Dan terakhir sekitar tahun 2.200SM datang Bangsa Arab Purba atau Bangsa Khabiru (keturunan 'Ad keturunan Sam bin Nabi Nuh). Bangsa Khabiru adalah pengikut setia Nabi Hud, mereka datang dengan membawa keyakinan Monotheisme, di dalam masyarakat pulau sumatera.

Penyatuan ke-empat bangsa ini di kenal dengan nama Bangsa Malai (Bangsa Aceh Purba/Melayu Proto), dengan mata pencaharian utama sebagai nelayan dan petani.

Bangsa Malai sebagaimana leluhur pertamanya Bangsa Himalaya, mendiami daerah dataran tinggi, yaitu di sepanjang Bukit Barisan (dari Pegunungan Pusat Gayo di utara, sampai daerah sekitar Gunung Dempo di selatan).

Bermula dari Bukit Barisan inilah, Bangsa Malai menyebar ke pelosok Nusantara, seperti di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Semenanjung Malaya, Siam, Kambujiya, Sunda, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.


Bangsa Malai Pelindung Nusantara

Menurut para sejarawan, Bangsa Mongoloid begitu mendominasi daerah di sebelah utara Nusantara.

Muncul pertanyaan, mengapa bangsa Mongoloid tidak sampai meluaskan kekuasaan sampai ke selatan, bukankah nusantara adalah daerah yang sangat layak untuk dikuasai? Daerahnya subur, serta tersimpan beraneka bahan tambang seperti emas, timah dan sebagainya.

Apa yang mereka takutkan?

Jawabnya hanya satu, karena Nusantara ketika itu, dilindungi Bangsa Malai. Bangsa Malai dikenal memiliki kekuatan maritim yang kuat, dan balatentaranya memiliki ilmu beladiri yang mumpuni.


Siti Qanturah Leluhur Bani Jawi

Pada sekitar tahun 1670SM, dikhabarkan Nabi Ibrahim (keturunan Syalikh keturunan Sam bin Nabi Nuh) telah sampai berdakwah di negeri Bangsa Malai. Beliau diceritakan memperistri puteri Bangsa Malai, yang bernama Siti Qanturah (Qatura/Keturah).





















Dari pernikahan itu Nabi Ibrahim di karuniai 6 anak, yang bernama : Zimran, Jokshan, Medan, Midian, Ishbak dan Shuah. Dari anak keturunan Siti Qanturah kelak akan memunculkan bangsa Media (Madyan), Khaldea dan Melayu Deutro (berdasarkan perkiraan, Nabi Ibrahim hidup di masa Dinasti Hyksos berkuasa di Mesir Kuno (1730SM-1580SM), sementara versi lain menyebutkan, Nabi Ibrahim menikah dengan Siti Qanturah, pada sekitar tahun 2025SM).

Bangsa Melayu Deutro
(Malai Muda), yang saat ini mendiami kepulauan Nusantara, juga mendapat sebutan Bani Jawi. Bani Jawi yang berasal dari kata Bani (Kaum/Kelompok) JiWi (Ji = satu ; Wi = Widhi atau Tuhan). Jadi makna Bani Jawi (JiWi) adalah kaum yang meyakini adanya satu Tuhan.

Keterangan mengenai Bani Jawi sebagai keturunan Nabi Ibrahim, ditulis oleh sejarawan terkemuka Ibnu Athir dalam bukunya yang terkenal 'al-Kamil fi al-Tarikh'.



Catatan :

  1. Melayu Deutro adalah istilah yang digunakan para sejarawan modern, untuk meng-indentifikasikan Bani Jawi, dimana Ibnu Athir menerangkan bahwa Bani Jawi adalah keturunan Nabi Ibrahim.

    Keterangan Ibnu Athir ini semakin nyata, ketika baru-baru ini, dari penelitian seorang Profesor Universiti Kebangsaaan Malaysia (UKM), diperoleh data bahwa, di dalam darah DNA Melayu, terdapat 27% Variant Mediterranaen (merupakan DNA bangsa-bangsa EURO-Semitik).

    Variant Mediterranaen sendiri terdapat juga di dalam DNA keturunan Nabi Ibrahim yang lain, seperti pada bangsa Arab dan Bani Israil.

  2. Suku Jawa adalah suku terbesar dari Bani Jawi. Dan sejak dahulu, mereka menganut monotheisme, seperti keyakinan adanya Sang Hyang Widhi atau Sangkan Paraning Dumadi.

    Selain suku Jawa, pemahaman monotheisme juga terdapat di dalam masyarakat Sunda Kuno. Hal ini bisa kita jumpai pada Keyakinan Sunda Wiwitan. Mereka meyakini adanya 'Allah Yang Maha Kuasa', yang dilambangkan dengan ucapan bahasa 'Nu Ngersakeun' atau disebut juga 'Sang Hyang Keresa'.

  3. Tulisan kami bukan sekedar cerita, legenda atau mitos, akan tetapi juga didukung oleh fakta-fakta ilmiah. Mengenai keberadaan Kota Barus, mari kita ikuti bacaan berikut...

    SEJARAH KOTA BARUS

    Sebagai pelabuhan niaga samudera, Barus (Lobu Tua) diperkirakan sudah ada sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Bahkan ada juga yang memperkirakan lebih jauh dari itu, sekitar 5000 tahun sebelum Nabi Isa lahir.

    Perkiraan terakhir itu didasarkan pada temuan bahan pengawet dari berbagai mummy Fir'aun Mesir kuno yang salah satu bahan pengawetnya menggunakan kamper atau kapur barus. Getah kayu itu yang paling baik kualitasnya kala itu hanya ditemukan di sekitar Barus.

    Sejarawan di era kemerdekaan, Prof Muhammad Yamin memperkirakan perdagangan rempah-rempah diantara kamper sudah dilakukan pedagang Nusantara sejak 6000 tahun lalu ke berbagai penjuru dunia.

    Seorang pengembara Yunani, Claudius Ptolomeus menyebutkan bahwa selain pedagang Yunani, pedagang Venesia, India, Arab, dan juga Tiongkok lalu lalang ke Barus untuk mendapatkan rempah-rempah.

    Lalu pada arsip tua India, Kathasaritsagara, sekitar tahun 600 M, mencatat perjalanan seorang Brahmana mencari anaknya hingga ke Barus. Brahmana itu mengunjungi Keladvipa (pulau kelapa diduga Sumatera) dengan rute Ketaha (Kedah-Malaysia), menyusuri pantai Barat hingga ke Karpuradvipa (Barus).

    Sumber :
    http://naulibasa-magz.com/index.php/web/news/index/5/1903532242



Monday, December 14, 2009

Alexander III 'The Great' Leluhur Penguasa Sriwijaya

Kunjungi (Revisi Sejarah Bangsa Melayu)...
Nabi Nuh, Sundaland dan Bangsa Melayu



Ada legenda di tanah Melayu, yang menceritakan penguasa Sriwijaya adalah keturunan dari Alexander III 'The Great' of Macedonia (Iskandar Agung). Akan tetapi, apakah cerita ini hanya sebatas Legenda?


Sejarah Sriwijaya versi Ahmad Grozali


Di dalam tulisannya, yang berjudul 'Ringkasan Sedjarah Seriwijaya Pasemah', Ahmad Grozali mengisahkan tentang mendaratnya kapal Putera Mahkota kerajaan Rau (Rao) India, yang bernama Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, tahun 101 Saka (179 M) di bukit Siguntang.

Kedatangannya bertujuan untuk mencari, Seri Nuruddin, Panglima Angkatan Laut Negeri Rau yang menghilang, setelah berangkat menuju Nusantara tahun 10 Saka (88M). Ringkas cerita, akhirnya Atung Bungsu bertempat tinggal di sekitar tanah basemah.

Atung Bungsu dipercaya merupakan leluhur dari :
  • Suku Basemah (Pasemah), Empat Lawang, Lahat dan Semende
  • Dapunta Hyang Srijayanasa, pendiri Kedatuan Sriwijaya.
  • Dapunta Hyang Syailendra, pendiri Wangsa Syailendra di Pulau Jawa
  • Parameswara, pendiri Kerajaan Malaka di Malaysia
Sumber :
http://besemah.blogspot.com/2006/06/sejarah-sriwijaya-versi-grozali.html


Rau adalah Kushans

Bila kita membuka lembaran sejarah, pada tahun 80M-200M, di India terdapat Kerajaan yang terkemuka yang bernama Kushans.

Kuat dugaan Kerajaan Kushans indentik dengan Kerajaan Rau, yang menjadi tempat asal Atung Bungsu. Pendapat ini setidaknya didukung dua alasan, yaitu :
  1. Penguasa Kushans memiliki kepercayaan yang sama dengan Penguasa Sriwijaya, yakni penganut agama Buddha Mahayana.

  2. Penguasa Kushans, pada tahun 80M-200M dipimpin oleh keturunan Kaisar Liu Pang (Dinasti Han). Dan apabila kita perhatikan anak cucu Atung Bungsu, yang berada di daerah tanah Basemah (Pasemah), seperti di Pagar Alam, Empat Lawang dan Lahat, memiliki perawakan mirip bangsa cina.




Atung Bungsu Putera Kanishka III


Diperkirakan Seri Nuruddin meninggalkan kerajaan Rau (Kushans) menuju Nusantara, pada masa pemerintahan Kanishka I (75M-105M). Dan Atung Bungsu, Putera Mahkota kerajaan Rau (Kushans), pergi untuk mencari Seri Nuruddin, pada masa pemerintahan ayahnya Kanishka III (175M-200M).

Kanishka III adalah keturunan Wema Kadphises II. Wema Kadphises II adalah putera Kuyula Kadphises I dengan Princess dari Kerajaan Bactria, melalui Princess of Bactria inilah, silsilah keturunan Alexander III 'The Great' berasal.


Silsilah Atung Bungsu sampai Alexander III 'The Great'

Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu putera Kanishka III (King) of the KUSHANS putera Vasudeva I (King) of the KUSHANS putera Huvishka I (King) of the KUSHANS putera Kanishka I of KUSHANASTAN putera Wema (Vima) Kadphises II (King) of the KUSHANAS putera Princess of BACTRIA puteri Calliope of BACTRIA puteri Hippostratus of BACTRIA putera Strato I Epiphanes (King) of BACTRIA (MATHURA) putera Agathokleia BACTRIA puteri Agathokles I (King) of BACTRIA putera Pantaleon of BACTRIA putera Demetrios (Demetrius) I (King) of BACTRIA putera Berenike of BACTRIA puteri Princess of SYRIA puteri Laodice I of SYRIA puteri Aesopia the PERDICCID of MACEDONIA puteri Alexander III 'The Great' (King) of MACEDONIA

Sumber :
http://fabpedigree.com


Catatan :

  1. Pada saat Atung Bungsu berlayar ke Nusantara tahun 101 Saka (179M), setidaknya, ada 3 pendapat mengenai siapa yang menjadi penguasa Kushans ketika itu, yaitu :

    • Kanishka III (175M-200M) putera Vasudeva I putera Huvishka I putera Kanishka I putera Wema Kadphises, sumber : fabpegree.com.
    • Vasudeva I (164M-200M) putera Huvishka I putera Kanishka I putera Wema Kadphises, sumber : www.indopedia.org.
    • Huvishka I (140M-183M) putera Kanishka I putera Wema Kadphises, sumber : en.wikipedia.org.

      Mengenai pendapat yang paling benar, tentu setiap pihak memiliki sumber masing-masing. Namun yang jelas, dari ketiga pendapat diatas, Atung Bungsu adalah keturunan dari Wema Kadphises, yang silsilahnya menyambung kepada Alexander III 'The Great' of Macedonia.


  2. Imperium Kushan adalah salah satu kerajaan yg memiliki wilayah sangat luas yg membentang dari India, Pakistan sampai utara Afghanistan, berbatasan langsung dengan Kekaisaran Han (Dinasti Han) di timur dan Parthia (Persia) di barat. Asal muasal Kerajaan Kushan dimulai dari eksodus besar-besaran bangsa Yue-Chi (Yuezhi) dari barat laut China (sekarang Xinjiang) akibat gempuran Xiong nu Khanate dari utara. Mereka (Yue Chi) pindah ke asia tengah, membentuk kerajaan baru dan menaklukkan wilayah utara India, hidukush dan bagian timur Persia. Yue Chi terbagi menjadi 5 clan yg mendiami wilayah yg berbeda2, dan Kushan adalah salah satu dari 5 clan tsb. Seiring dengan menguatnya Clan Kushan, Pangeran Kujula Kadphises memerintahkan untuk menyerbu 4 clan lainnya sehingga akhirnya 5 clan tersebut disatukan dibawah pimpinan Kushan.

    Karena letaknya ditengah2 jalur sutra (Silk Road), banyak keuntungan yg didapat oleh Kushan, terutama dari perdagangan, karena kota2 mereka adalah tempat persinggahan kafilah2 pedagang yg melalui jalur sutera. Masyarakat Kushan sendiri adalah masyarakat nomaden, karena itu mereka memiliki beberapa ibukota, Begram ibukota musim panas dan Peshawar ibukota musim dingin.

    Kekuatan utama militer Kushan adalah Cavalry/Horse Archer (Pasukan pemanah berkuda). Dalam satu agresi militer, bisa terkumpul 100.000 horse Archer. Pada masa jayanya, Kushan sangat kuat, bahkan mereka bisa merebut kembali sebagian wilayah nenek moyang mereka (Yue Chi).

    Keruntuhan Kushan disebabkan oleh menguatnya pengaruh Persia Sassanid di barat, akhirnya mereka menjadi kerajaan inferior (Vassal) dari Kekuasaan Sassanid.

    Sumber :
    http://www.banggundul.web.id/2009/11/kerajaan-kushan-kushan-empire-60m-375m.html


  3. Pada tahun 101 Syaka (bertepatan dengan tahun 179 Masehi), berlabuhlah tujuh bahtera (jung) di Pulau Seguntang. Pulau Seguntang iu adalah Bukit Seguntang yang sekarang, yaitu bukit dengan ketinggian 27 meter di atas permukaan laut, di dalam Kota Palembang.

    Adapun Angkatan Bahtera (Armada Jung) yang berlabuh di Pulau Seguntang pada tahun 101 Syaka atau 179 Masehi itu, dipimpin oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, putra mahkota Kerajaan Rau (Rao) di India. Sebagai penasihat Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu adalah Ariya Tabing dari Kepulauan Massava (Filipina) dan Umayullah dari Parsi Persia (Iran).

    Perjalanan Angkatan Bahtera Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu tahun 101 Syaka (179 Masehi) itu adalah perjalanan kedua yang dilakukan oleh Angkatan Bahtera Kerajaan Rau (Rao) untuk menyelidiki pulau-pulau di Nusantara, yaitu pulau-pulau di tenggara benua Asia. Perjalanan pertama berlangsung sebelum tahun 10 Syaka atau tahun 80-an Masehi. Angkatan Bahtera Kerajaan Rau (Rao) yang berangkat ke Nusantara sebelum tahun 10 Syaka itu dipimpin oleh Seri Nuruddin yang berasal dari Kepulauan Massava (Filipina), yang pada waktu itu menjabat sebagai Ariya Passatan (Panglima Angkatan Laut) Kerajaan Rau (Rao).

    Angkatan Seri Nuruddin telah berpuluh-puluh tahun tidak kembali ke Kerajaan Rau (Rao) di India, bahkan tidak ada kabar sama sekali. Oleh sebab itu maka dikirim angkatan kedua, angkatan susulan, yang dipimpin langsung oleh yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu. Mereka mengharung samudera, menuju ke pulau-pulau Nusantara.Pada hari Jumat, hari ke-14, bulan Haji (bulan Zulhijjah), tahun 101 Syaka, bertepatan dengan tahun 179 Masehi, mendaratlah Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu yang memimpin Angkatan Tujuh Bahtera itu di daratan, di dekat pohon cendana, di Pulau Seguntang atau Bukit Seguntang.

    Di situ beliau Yang Mulia menemukan satu bumbung (berumbung) atau tabung yang berisi lempengan emas bersurat. Lempengan emas bersurat dalam bumbung yang ditemukan oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu itu, ternyata adalah surat atau warkah yang ditandatangani oleh Seri Nuruddin, Ariya Passetan (Panglima Angkatan Laut) Kerajaan Rau (Rao), bertanggal hari kesebelas, bulan ketujuh (bulan Rajab), tahun 10 Syaka, bertepatan dengan tahun 88 Masehi.

    SuratInilah isi surat atau warkah emas yang ditulis dan ditandatangani oleh Seri Nuruddin, yang ditemukan oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu di bawah pohon cendana, di Bukit Seguntang itu.“Kami tak dapat lagi pulang ke India karena segala alat perlengkapan kami telah rusak binasa. Tetapi kami telah menemukan beberapa pulau, di antaranya ada yang kami namakan Tanah Jawa karena di dalamnya (di pulau itu) banyak kami mendapat buah jawa, yang kami makan dan dijadikan bubur.Barangsiapa mendapatkan barang ini (surat ini) hendaklah menyampaikannya ke hadirat Yang Diperlukan Kerajaan Rau (Rao) di India”.Demikianlah isi surat pertama yang ditemukan oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu di Bukit Seguntang.

    Setelah penemuan surat pertama itu, Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu menemukan surat yang kedua. Rupanya tahun pembuatan dan orang yang membuat atau menulis surat itu berlainan. Surat yang kedua ditulis pada tahun 50 Syaka (128 Masehi). Yang menulisnya adalah Ariya Saka Sepadi, Bukan Seri Nuruddin.Surat yang ditulis oleh Ariya Saka Sepadi pada tahun 50 Syaka (128 Masehi) itu dituliskan pada “kain bambu” (bilah-bilah bambu) yang isinya sebagai berikut.“Pada tahun 50 Syaka (28 Masehi), Yang Mulia Seri Nuruddin meninggal dunia di Muara Lematang dan kami makamkan dia di sana dengan upacara yang selayaknya. Ditulis oleh Ariya Saka Sepadi”.Demikianlah di antara tanda-tanda yang mereka peroleh atau temukan bersama-sama dengan beberapa benda lain peninggalan Angkatan Bahtera Seri Nuruddin yang telah rusak binasa pada tahun 10 Syaka (88 Masehi) dan perihal kematian Seri Nuruddin sendiri pada tahun 50 Syaka (128 Masehi) di Muara Lematang, sebelah barat Bukit Seguntang.TeraYang Mulia Seri Mapuli Dewan Atung Bungsu yang mendarat di Bukit Seguntang pada tahun 101 Syaka (179 Masehi) itu segera mendirikan pondokan bagi angkatannya (rombongannya)

    Sumber :
    http://besemah.blogspot.com/2006/06/sejarah-sriwijaya-versi-grozali.html


  4. Atung Bungsu, juga merupakan keturunan Cyrus II `the Great' of PERSIA, yang menganut keyakinan Monotheisme. Sebagian ulama percaya, bahwa Cyrus II `the Great' indentik dengan Zulkarnain (Zul-Qarnayn), yang kisahnya terdapat di dalam Al Qur'an (QS. Al Kahfi (18) : 83 - 98).

    Sumber :
    http://waii-hmna.blogspot.com/2007/04/776-siapakah-dzulqarnain.html
    http://sangtawal.blogspot.com/2009/09/siapakah-yang-layak-di-gelar-zul.html


    Silsilah lengkapnya sebagai berikut :

    Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu putera Kanishka III (King) of the KUSHANS putera Vasudeva I (King) of the KUSHANS putera Huvishka I (King) of the KUSHANS putera Kanishka I of KUSHANASTAN putera Wema (Vima) Kadphises II (King) of the KUSHANAS putera Princess of BACTRIA puteri Calliope of BACTRIA puteri Hippostratus of BACTRIA putera Strato I Epiphanes (King) of BACTRIA (MATHURA) putera Agathokleia BACTRIA puteri Agathokles I (King) of BACTRIA putera Pantaleon of BACTRIA putera Demetrios (Demetrius) I (King) of BACTRIA putera Berenike of BACTRIA puteri Princess of SYRIA puteri Laodice I of SYRIA puteri Aesopia the PERDICCID of MACEDONIA puteri Roxane (Roxana) of SOGDIA puteri Barsine of STATERIA puteri Darius III (Shah) of PERSIA putera Arsames (Prince) of PERSIA putera Ostanes of PERSIA putera Darius (Ochus) II (Shah) of PERSIA putera Artaxerxes I Longimanus (Shah) of PERSIA putera Xerxes I `the Great' of PERSIA putera Atossa (Hutaosa) of PERSIA puteri Cyrus II `the Great' (1st Shah) of PERSIA


Wednesday, December 2, 2009

Rasulullah, keturunan ke-61 dari Nabi Ismail

Kunjungi (Revisi Sejarah Bangsa Melayu)...
Nabi Nuh, Sundaland dan Bangsa Melayu



Watsilah bin Asyqo berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda : "Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail dan Allah memilih Quraisy dari keturunan Kinanah. Allah memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan Allah memilih aku dari keluarga Bani Hasyim" (HR. Muslim dan At-Tirmidhi)

Hadith di atas, adalah informasi dari Rasulullah, mengenai silsilah beliau. Dan tidak ada maksud, untuk membangga-banggakan kemuliaan nasab yang dimilikinya.


Bani Hasyim - Suku Quraisy - Bani Kinanah

Rasulullah berasal dari Bani Hasyim, yang bertanggung-jawab dalam Pemeliharaan Ka'bah. Bani Hasyim dinisbatkan kepada anak keturunan Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr (Quraisy). Rasulullah sendiri adalah cicit dari Hasyim bin Abdu Manaf, dengan nasab : Muhammad Rasulullah bin Abdullah bin Abdu Muthalib bin Hasyim.

Keluarga Bani Hasyim, merupakan bagian dari Suku Quraisy, yang merupakan anak keturunan Fihr (Quraisy) bin Malik bin Al Nadhar bin Kinanah. Sementara Suku Quraisy, merupakan pecahan dari Bani Kinanah, yang berasal dari Kinanah bin Khuzayma bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.

Sebagian besar bangsa Arab, termasuk Bani Kinanah, hanya mengetahui leluhur mereka sampai kepada Adnan. Umar bin Khatab pernah berkata : "Kami mengetahui daftar nenek moyang hanya sampai kepada Adnan", bahkan Ibnu Abbas pernah menyatakan "antara Adnan dan Ismail ada 30 generasi yang tidak diketahui".


Nasab Muhammad Rasulullah

Melalui penelitian yang panjang, akhir-akhir ini diperoleh data mutahir mengenai leluhur Rasulullah, yang dimulai dari Adnan sampai kepada Nabi Ibrahim, yaitu :

Adnan bin Add bin Humaisi‘ bin Salaman bin Aws bin Buz bin Qamwal bin Obai bin ‘Awwam bin Nashid bin Haza bin Bildas bin Yadlaf bin Tabikh bin Jahim bin Nahish bin Makhi bin Ayd bin ‘Abqar bin ‘Ubayd bin Ad-Da‘a bin Hamdan bin Sanbir bin Yathrabi bin Yahzin bin Yalhan bin Arami bin Ayd bin Deshan bin Aisar bin Afnad bin Aiham bin Muksar bin Nahith bin Zarih bin Sami bin Wazzi bin ‘Awda bin Aram bin Qaidar bin Nabi Ismail bin Nabi Ibrahim ("Ar Raheeq Al Makhtum", tulisan Syaikh Safi-ur Rahman al-Mabarakpuri).

Sumber :
http://www.islamicity.com/forum/forum_posts.asp?TID=6582
http://www.quranandscience.com/his-biography/175-prophet-muhammad-family-tree.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Bani_Assad


Sehingga Nasab Rasulullah sampai kepada Nabi Ibrahim, adalah sebagai berikut :

Muhammad Rasulullah bin Abdullah bin Abdu Muthalib bin Hasyim (cikal bakal Bani Hasyim) bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr (cikal bakal Suku Quraisy) bin Malik bin Al Nadhar bin Kinanah (cikal bakal Bani Kinanah) bin Khuzayma bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan bin Add bin Humaisi‘ bin Salaman bin Aws bin Buz bin Qamwal bin Obai bin ‘Awwam bin Nashid bin Haza bin Bildas bin Yadlaf bin Tabikh bin Jahim bin Nahish bin Makhi bin Ayd bin ‘Abqar bin ‘Ubayd bin Ad-Da‘a bin Hamdan bin Sanbir bin Yathrabi bin Yahzin bin Yalhan bin Arami bin Ayd bin Deshan bin Aisar bin Afnad bin Aiham bin Muksar bin Nahith bin Zarih bin Sami bin Wazzi bin ‘Awda bin Aram bin Qaidar bin Nabi Ismail bin Nabi Ibrahim.


Pendapat Pendukung

Bible (Kejadian 25:12-15) mencatat anak-anak Ismail berdasarkan urutan kelahiran yaitu :
Nebayot (anak sulung Ismael), Kedar, Adbeel, Mibsam, Misyma, Duma, Masa, Hadad, Tema, Yetur, Nafish dan Kedma.

Nabi Muhammad Saw, terlahir dari keturunan Qaidar (Kedar) bin Nabi Ismail, didukung pendapat beberapa ahli Bible, antara lain :

  1. The Davis Dictionary of the Bible (1980), sponsored by the Board of Christian Education of the Presbyterian Church in the USA, menulis pada artikel Kedar sebagai berikut :

    "... A tribe descended from Ishmael (Gen. 25:13) ... The people of Kedar were Pliny's Cedrai, and from their tribe Mohammed ultimately arose."

    "....suatu suku keturunan Ismail (Kej. 25:13).... masyarakat keturunan Kedar ialah orang Pliny Cedrai, dan dari suku mereka itulah lalu Muhammad dilahirkan secara terhormat."

  2. The International Standard Bible Encyclopedia dari A.S. Fulton menerangkan :

    "... Of the Ishmaelite tribes, Kedar must have been one of the most important and thus in later times the name came to be applied to all the wild tribes of the desert. It is through Kedar ("Keidar" in Arabic) that Muslim genealogists trace the descent of Mohammed from Ishmael."

  3. Smith's Bible Dictionary ikut menjelaskan :

    "Kedar (black). Second son of Ishmael (Gen. 25:13) ... Mohammed traces his lineage to Abraham through the celebrated Koreish tribe, which sprang from Kedar. The Arabs in the Hejaz are called Beni Harb (men of war), and are Ishmaelites as of old, from their beginning. Palgrave says their language is as pure now as when the Koran was written (A.D. 610), having remained unchanged more than 1200 years; a fine proof of the permanency of Eastern Institutions."

Tiada keraguan bahwa Muhammad saw adalah keturunan langsung dari nabi Ismail dan bukti ini tidak dapat dibantah sebagaimana bukti-bukti yang meyakinkan di bawah ini.
  1. Keturunan Qurays adalah suku dari Muhammad saw. Mereka percaya dan meyakini sebagai keturunan Ismail. Jika pengakuan ini salah maka keturunan asli nabi Ismail akan mengajukan keberatan, namun tidak ada kaum lain yang pernah menyatakan demikian. Dan tidak ada satu keberatan pun yang pernah muncul.

  2. Di dalam Kejadian 17:20-21 Allah menjanjikan untuk memberkati anak cucu nabi Ismail dan akan menjadikan suatu bangsa yang besar. Jika Orang-orang Arab bukan dari keturunannya, dimanakah bangsa yang besar itu?

  3. Menurut Kejadian 25: 18 keturunan nabi Ismail bertempat tinggal dari Havilah sampai Tsur yang berlawanan arah dengan Mesir. Dari petikan ini menandakan kepada bagian luar Jazirah Arabia. Bahkan Paulus mengakui bahwa Hajjar mempunyai hubungan dengan bangsa Arab. “Sekarang Hajjar adalah nama bukit Sinai di Arab”. (Galatia 4:25)

Nubuat Kenabian

Pembuktian bahwa Muhammad Rasulullah, sebagai keturunan Qaidar (Kedar) bin Nabi Ismail menjadi penting, dikarenakan di dalam beberapa ayat Bible, ada bernubuat tentang bakal munculnya seorang nabi, dari kalangan keturunan Qaidar (Kedar), diantaranya :
  1. Bahwasanya Nabi Muhammad akan Hijrah (dari Makkah), dan disambut penduduk kota yang didatanginya (Madinah).

    Yesaya, 21 : 13-17

    “Ucapan ilahi terhadap Arabia . Di belukar di Arabia kamu akan bermalam, hai kafilah kafilah orang Dedan ! Hai penduduk tanah Tema , keluarlah, bawalah air kepada orang yang haus, pergilah, sambutlah orang pelarian dengan roti! Sebab mereka melarikan diri terhadap pedang, ya terhadap pedang yang terhunus, terhadap busur yang dilentur, dan terhadap kehebatan peperangan. Sebab beginilah firman Tuhan kepadaku: "Dalam setahun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan, maka segala kemuliaan Kedar akan habis. Dan dari pemanah-pemanah yang gagah perkasa dari bani Kedar, akan tinggal sejumlah kecil saja, sebab Tuhan, Allah Israel, telah mengatakannya."

    Dedan : adalah di Arabia bagian Utara. Negeri yang dekat dengan kota Madinah.
    Tema : adalah anak Ismail, yang menghuni di utara kota Madinah .
    Kedar : adalah anak Ismail.

    Nubuat kitab Yesaya sangat otentik karena sesuai historis dimana Yahweh (Allah Israel ) berfirman bahwa anak-anak Ismail di Arabia akan mendapat wahyu dari-Nya. Wahyu yang diterima Yesaya memerintahkan kepada orang-orang Tema supaya menghidangkan makanan dan minuman kepada orang-orang yang lari dari pedang. Nabi Muhammad dan umat Muslim kota Makkah hijrah pada tahun 1 Hijriah menuju kota Madinah dimana mereka mendapat sambutan meriah dari penduduk kota Madinah.


  2. Bahwasanya umat Islam memenangkan peperangan melawan orang kafir, satu tahun setelah hijrah.

    Yesaya, 21 : 16-17

    “Dalam setahun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan, maka segala kemuliaan Kedar akan habis. Dan dari pemanah-pemanah yang gagah… dari Bani Kedar akan tinggal sejumlah kecil saja.”

    Nubuat Nabi Yesaya tersebut, telah digenapi oleh ALLAH dalam perang Badar :

    Dalam setahun lagi : tanggal 12 Robi’ul Awal tahun 1 Hijriyah umat Islam hijrah dari Makkah ke Madinah, dan setahun kemudian tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah umat Islam berhasil mengalahkan orang-orang kafir Makkah dalam peperangan Badar.

    Walaupun Kedar adalah salah satu dari Bani Ismael, namun sebagian dari mereka masih ada yang membangkang dengan ajaran Nabi Muhammad saat itu. Tapi setelah Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah) mereka semua (100%) menerima ajaran Nabi Muhammad SAW sampai detik ini, yaitu negara Arab Saudi (keturunan Kedar).


  3. Bahwasanya Bani Ismail akan menyanyikan Nyanyian Baru bagi Tuhan

    Yesaya, 42 : 10-12

    “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan dan pujilah Dia dari ujung bumi! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya. Baiklah padang gurun menyaringkan suara dengan kota-kotanya dan dengan desa-desa yang didiami Kedar! Baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu, baiklah mereka berseru-seru dari puncak gunung-gunung! Baiklah mereka memberi penghormatan kepada Tuhann, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya di pulau-pulau.”

    Nubuat Nabi Yesaya tersebut, telah digenapi oleh ALLAH kepada umat Islam :

    nyanyian baru bagi Tuhan : Takbir, Tasbih, Tahmid, Tahlil, Istighfar dan sebagainya.

    menyaringkan suara : umat Islam di berbagai negara, desa, kota, dan pulau, semuanya menyaringkan suara, untuk mengumandangkan Azan sebagai tanda waktu sholat.

    desa-desa yang didiami Kedar : nubuat ini hanya untuk orang Islam, karena Bani Kedar (keturunan Ismael) yang sekarang menjadi negara Arab Saudi penduduknya adalah 100% Islam.


  4. Bahwasanya akan pindahnya Bait ALLAH, dari Yerusalem ke kota Makkah

    Yesaya, 60 : 5-14

    “Kelimpahan dari sebrang laut akan beralih kepadamu. Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu… segala kambing domba Kedar… dan Nebayot… untuk ibadahmu… Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku… orang-orang asing akan membangun tembokmu… mereka akan menyebut engkau kota Tuhan.”

    Nubuat Nabi Yesaya tersebut, telah digenapi oleh ALLAH kepada umat Islam :

    kelimpahan dari sebrang laut akan beralih kepadamu : umat Islam dari seberang lautan manapun telah mengunjungi Bait ALLAH di Makkah, dan tidak lagi di Yerusalem.

    segala kambing/domba…untuk ibadahmu : umat Islam mensucikan Bait ALLAH di Makkah dengan berqurban kambing.

    menyemarakkan rumah keagungan-Ku : umat Islam dari seluruh dunia menyemarak-kan Bait ALLAH di Makkah setiap musim haji. Dan juga setiap harinya untuk ibadah Umroh atau ibadah rutinitas.

    orang-orang asing akan membangun tembokmu : bukan lagi orang Israel yang membangun tembok Bait ALLAH, tapi orang yang dianggap asing oleh Israel , yaitu orang-orang keturunan Ismael (orang Arab/Kedar).

    kota Tuhan : itulah Makkah telah menjadi kota ALLAH, bukan lagi di Yerusalem.


  5. Bahwasanya umat Islam berqurban di Bait ALLAH, Makkah

    Yesaya, 60 : 7

    “Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu, semuanya akan dipersembahkan di atas Mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku. Dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku.”

    Nubuat Nabi Yesaya tersebut, telah digenapi oleh ALLAH kepada umat Islam :

    segala kambing domba Kedar : pada setiap hari raya haji/Idul Adha, berbondong-bondong umat Islam dari seluruh dunia untuk ibadah haji, dan salah satu ritualnya yaitu berqurban kambing dan domba.

    menyemarakkan rumah keagungan-Ku : Masjidil Haram, Ka’bah di Makkah selalu semarak ketika musim Haji.